Jumat, 15 Oktober 2010

lagu cinta

lagu cinta


Efek Putus Cinta Terhadap Kerja Jantung,a result of research

Posted: 14 Oct 2010 11:26 PM PDT

Sebagian besar yang mengalami patah hati tentu sulit menggambarkan kondisi kala itu. Bahkan muncul ragam perumpamaan semodel lebih baik sakit gigi ketimbang patah hati. Pertanyaannya, apa yang bakal dilakukan seseorang ketika sebuah riset mengatakan patah hati juga menyebabkan jantung berhenti?

Sebuah riset yang digarap bersama dua kampus ternama di Belanda, University of Amsterdam dan University of Leiden dalam laporan singkatnya mengungkap ketika individu patah hati sebuah area di otak memproses perasaan sakit hati anda dengan meresponya dengan menghentikan kerja jantung sesaat. Efek dari jantung berhenti sesaat ini menyebabkan perasaaan gelisah, enggan makan dan insomnia mendadak.

Guna membuktikan kebenaran itu, tim riset kedua kampus itu meminta sekelompok partisipan untuk ambil bagian dalam riset. Mereka diberikan semacam tes. Tes pertama, patisipan diharuskan mengirimkan foto mereka. Mereka diberitahu tentang pentingnya kesan pertama. Oleh peneliti, pada dada setiap partisipan diberikan kabel yang terhubung dengan elektrokardiogram. Selanjutnya, setiap partisipan diberikan foto.

Saat itu, ketika partisipan merasa suka kemudian menyatakan perasaannya pada calon pasangannya detak jantung naik secara teratur. Namun, saat perasaan itu ditolak denyut jantung menurun dan jauh lebih lambat dari sebelumnya. "Penolakan sosial secara harfiah begitu menyedihkan," simpul peneliti seperti yang dilaporkan dalam Journal Psycological Science.

Jatuh Cinta Bisa Membuat ‘Buta’

Posted: 14 Oct 2010 11:22 PM PDT

Dilansir BBC, penelitian oleh Universitas London membuktikan ketika sedang jatuh cinta, bagian otak manusia yang mengontrol pikiran-pikiran kritis agak terganggu. Oleh karena itu istilah ‘Cinta buta’ benar adanya.

“Pria, menjadi seperti wanita, sedangkan wanita menjadi seperti pria. Sepertinya ala, ingin menghilangkan perbedaan antara pria dan wanita agar mereka bisa bersatu,” ujar peneliti asal Italia, Donatella Marazziti dari Universitas Pisa.

Namun ini tak hanya berlaku untuk cinta pada kekasih, kecintaan ibu pada anaknya juga bisa menghasilkan hal serupa. Penelitian ini melibatkan 20 orang yang diminta untuk memberikan pendapat soal orang yang dicintainya.

Sebelumnya, mereka ditunjukkan foto orang tersebut. Perasaan jatuh cinta membuat aktivitas otak yang terkait dengan penilaian kritis menjadi terganggu. Aktivitas yang menimbulkan emosi-emosi negatif pun menjadi berkurang. Tak hanya itu saja, terjadi peningkatan aktivitas di bagian otak yang merespon terhadap reward atau hal-hal baik.

Sedangkan bagian otak yang biasa membuat penilaian-penilaian negatif mengalami penurunan aktivitas. Para responden ini seakan di’buta’kan oleh cinta mereka sehingga penilaian tentang pasangan mereka tak se-obyektif

Penilaian terhadap orang yang dicintai lebih cenderung ke penilaian yang bersifat positif. Sedangkan hal-hal negatif atau kesalahan pasangan kerap terlewatkan oleh mereka. Nah, yang membedakan antara cinta kekasih dan keluarga adalah, cinta dengan kekasih bisa memicu aktivitas di hypotalamus.

Hypotalamus ini bertugas untuk mengontrol rangsangan yang berbau seksual. Sementara itu, penelitian lain membuktikan, pria dan wanita yang sedang jatuh cinta juga mengalami perubahan hormon. Pria yang sedang jatuh cinta mengalami penurunan hormon testoteron sedangkan pada wanita terjadi peningkatan hormon testoteron. Aktivitas ini terjadi pada enam bulan pertama pasangan tersebut mulai jatuh cinta.

Cinta ‘dapat menyembuhkan sakit seperti morfin’

Posted: 14 Oct 2010 11:10 PM PDT

Hai brotha and sista. tahu nggak? ternyatah Love ‘can heal pain like morphine’ Yupz, Cinta ‘dapat menyembuhkan sakit seperti morfin’.

Para ilmuwan di Amerika Serikat telah menguji teori itu pada 15 mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berada dalam tahap-tahap awal hubungan percintaan. Para mahasiswa yang berasal dari Universitas Stanford, AS, itu sedang berada dalam sembilan bulan pertama hubungan.

Responden ditunjukkan foto-foto dari pasangan mereka sementara sebuah papan yang terhubung dengan komputer mengalirkan panas ke telapak tangan para mahasiswa dan memberikan rasa sakit ringan.

Pada saat yang sama otak dari para mahasiswa itu dipindai menggunakan mesin ‘functional magnetic resonance’ atau fRMI untuk mengukur aktifitas setiap bagian otak para sukarelawan sepanjang waktu.

Penelitian itu kemudian menunjukkan bahwa perasaan cinta yang dipicu oleh foto sang kekasih berfungsi sebagai penghilang rasa sakit. Sementara melihat foto seorang kenalan atau sahabat yang meski menarik rupanya tidak memberi pengaruh apa-apa.

Telah diketahui sebelumnya bahwa perasaan cinta yang sangat kuat berkaitan dengan aktifitas yang intens dalam beberapa bagian otak. Bagian otak yang terpengaruh itu termasuk yang berhubungan dengan senyawa kimia otak yang disebut dopamin.

Dopamin adalah senyawa kimia otak yang bisa memancarkan sinyal di antara neuron-neuron otak. Dopamin adalah pusat dari sistem ‘reward’ otak. Sistem ‘reward’ adalah bagian otak yang memberikan manusia rasa senang.

“Ketika orang sedang bergairah dalam cinta, terjadi perubahan suasana hati yang kemudian mempengaruhi rasa sakit,” kata Dr Sean Mackey pemimpin penelitian yang dimual di jurnal PLoS One itu seperti yang dikutip Telegraph.

“Kami sedang mulai menguraikan berapa bagian dari sistem ‘reward’ itu dan bagaiamana sistem itu mempengaruhi rasa sakit,” Mackay menjelaskan lebih lanjut.

Dopamin sangat erat hubungannya dengan kecanduan dan penghilang rasa sakit yang disebabkan oleh konsumsi morfin dan obat-obat bius lainnya – suatu neurotransmitter utama yang mempengaruhi suasana hati, penghargaan dan motivasi’. www.metro.co.uk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar